Drinking water is water that is intended to be ingested by humans. Water of sufficient quality to serve as drinking water is termed potable water whether it is used as such or not. Although many sources are utilised by humans, some contain disease vectors or pathogens and cause long-term health problems if they do not meet certain water quality guidelines. Water that is not harmful for human beings is sometimes called safe water, water which is not contaminated to the extent of being unhealthy. The available supply of drinking water is an important criterion of carrying capacity, the population level that can be supported by planet Earth.
  • Pembayaran Rekening Online
  • PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin

Sumber : http://ciptakarya.pu.go.id

Ditilik dari rencana program sebenarnya, Kecamatan Aluh- Aluh di pesisir Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan belum layak memperoleh layanan air minum. Namun mengingat masyarakat diwilayah ini selama masa kemerdekaan hingga kini belum menikmati layanan air bersih, maka terpaksa Pemprov Kalsel merealisasikannya. Bangunan infrastruktur dan jaringan instalasi pipa saat ini tengah dikerjakan. Target awal 2010 masyarakat dari 3 Kecamatan di Kabupaten Banjar sudah bisa menikmati layanan air bersih.

Direktur Teknik PDAM Intan Banjar Budi Santoso menegaskan, akhir tahun ini masyakarakat Kecamatan Aluh-Aluh bisa menikmati layanan air bersin melalui sistem perpipaan. Menurut dia, selain Kec. Aluh-Aluh, dua Kecamatan lain yakni Kecamatan Beruntung Baru dan Kecamatan Tatah Makmur juga masuk wilayah yang akan mendapatkan layanan program air bersih.

“Asal mulanya, program ini hanya bagi masyarakat Kecamatan Aluh-Aluh saja. Tapi mengingat adanya pemekaran wilayah sehingga kedua Kecamatan itu juga berhak mendapatkan layanan yang sama,” Ungkap Budi Santoso, (22/10) di Kota Banjarmasin.

Untuk mewujudnya program layanan tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar akan melaksanakan kerjasama atau Memorandum Of Understanding (MOU). Pelaksanaan  MOU tersebut sedianya akan dilaksanakan Senin lalu disaksikan Menteri PU. Kurangnya persiapan menyebabkan acara tersebut menjadi tertunda.

“Isi kesepakatan kerjasama adalah penjualan air minum curah dari PDAM Banjarmasin (milik Pemkot Banjarmasin) kepada PDAM Intan Banjar (Milik Pemkab Banjar. Infrastrukturnya kini tengah disiapkan,” tutur Direktur Teknik PDAM Intan Banjar.

Bangunan konstruksi reservoar berkapasitas 1000 m3/detik  berikut perlengkapannya tengah dikebut. Konstruksinya mulai digarap Mei 2009 dengan dana APBN sebesar Rp 6 Miliar dan ditargetkan awal Desember tahun ini rampung. Target layanan mencapai 40 liter/detik. Diharapkan awal tahun 2010 program layanan air curah bisa operasional. “Masyarakat calon pelanggan di 3 Kecamatan ini sudah sangat berharap kucuran air bersih dari program ini,” tambah Budi.

Progress fisik konstruksi bangunan Reservoar Intan Banjar saat ini baru sekitar 80 persen. Pekerjaannya sempat terhalang oleh hujan. Saat pengecoran berlangsung turun hujan selama 3 hari. Meski terdapat kendala, Budi Santosa optimis akhir tahun (2009) bangunan (Booster) bisa dioperasikan.

Budi menjelaskan, dari reservoar Intan Banjar yang berlokasi di Desa Tambak Sirang, air curah yna berasal dari Reservoar PDAM Bandarmasih dengan berlokasi di jalan Gerilya berkapasitas 2500 meter kubik (milik Pemkot Banjarmasih) akan disalurkan ke 3 Kecamatan yang membutuhkan.  Pembangunan reservoir merupakan Proyek Program pengembangan sistem Penyediaan Air Minum Ibu Kota Kecamatan (SPAM-IKK).

Pihak PDAM Intan Banjar saat ini juga tengah merampungkan bangunan serupa (reservoir) berkapasitas 2500 M3 berikut bangunan laboratorium di Kota Banjar Baru. Selain itu, Balai Wilayah Sungai Kalimantan II saat ini tengah mengerjakan proyek pembangunan Intake Sei Tabuk II berkapasitas 500 liter/detik senilai Rp 2,5 Miliar. Bangunan ini dimaksudkan untuk menambah cakupan layanan air bersih yang terus bertambah pelanggannya di Kota Banjarmasin. Proyek  dijadwalkan rampung akhir tahun ini.

Satker Air Minum Propinsi Kalsel, Azan SY. Muaz, menilai kendala utama pengembangan air minum di wilayahnya. Pasalnya, tanahnya bergambut, sehingga tingkat kekeruhan dan warnanya sangat buruk (coklat kehitam-hitaman). Hingga kini baru 13 Kabupaten/kota (11 kabupaten, 2 kota) yang terlayani program layanan air bersih, atau 12% dari total wilayah Kalsel.

Terkait dengan itu, pihak Propinsi Kalsel tahun 2010 kembali mengusulkan dibangunnya 4 Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan alokasi anggaran sekitar Rp 16,8 Miliar. Adapun jaringan instalasi pipa diambil dari Pemda setempat. Masing-masing IPA berkapasitas 20liter/detik dengan sasaran 25 ribu Sambungan Rumah (SR).

“Tahun 2009, pihaknya telah membangun  3 IPA di 3 Kabupaten (Tapin, Kota Baru, Balongan) dengan dana APBN sebesar Rp 10 Miliar.Progres fisik 90% dan ditargetkan akhir tahun ini bisa beroperas,” ungkap Azani. (Sony)
 
Last Updated ( Dec 17, 2009 at 06:57 AM ) 

Add comment


Security code
Refresh