Drinking water is water that is intended to be ingested by humans. Water of sufficient quality to serve as drinking water is termed potable water whether it is used as such or not. Although many sources are utilised by humans, some contain disease vectors or pathogens and cause long-term health problems if they do not meet certain water quality guidelines. Water that is not harmful for human beings is sometimes called safe water, water which is not contaminated to the extent of being unhealthy. The available supply of drinking water is an important criterion of carrying capacity, the population level that can be supported by planet Earth.
  • Pembayaran Rekening Online
  • PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin

Kualitas Air Baku Mengkhawatirkan

Berdasarkan penilaian Kementrian Lingkungan Hidup, kondisi air di Kalimantan Selatan terjelek di seluruh Indonesia. Hal ini disebabkan banyaknya logam berat, bakteri e-colli dan sampah rumah tangga yang tercampur dalam air sungai.

Beradasarkan data PDAM Bandarmasih Banjarmasin, dana yang dibutuhkan 2006 sebesar Rp 16 Miliar dan terus meningkat hingga 42 Miliar di 2009.

Makin besarnya dana untuk mengolah air baku ini disampaikan Ketuda DPD Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia, sekaligus Direktur Umum PDAM Bandarmasih, Rahmatullah, pada seminar bertema Selamatkan air baku dan sungai di Kal-sel, di Graha Abdi Persada, Selasa (3/8).

Padahal, tambahnya, berapa tahun lalu, pengolahan air sungai menjadi air minum cukup menggunakan tawas. Namun kini penjernihan air tersebut tidak sanggup lagi untuk membuat air sungai layak dikonsumsi.

"Kalau dulu kami cukup menggunakan tawas untuk proses pengolahan air sungai menjadi air minum, sekarang harus menggunakan Polyaluminium Cloride Liquid (PAC Liquid) yang harganya lebih mahal, " katanya.

Bahkan, dengan kondisi air yang terus memburuk, PAC Liquid tidak cukup lagi untuk mengolah air sungai Kalsel menjadi air minum karena baku mutu air yang makin buruk. PDAM bahkan harus menggunakan bahan penjernih dengan kualitas di atas PAC Liquid tersebut.

Ditambahkan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel, Rachmadi Kurdi, dari pengujian yang dilakukan Kementerian LH, nilai air baku yang ada di Kalsel hanya 8,4.

"Itu nilai yang paling rendah diantara daerah lain di Indonesia. Artinya air baku di Kalsel ini sangat kotor," terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dari 11 lokasi yang diambil sampelnya, diantaranya Sungai Barito, Sungai Martapura, Sungai Tapin dan Sungai Amandit, semua sudah tercemar logam berat.

Sementara menurut Kasi evaluasi BP DAS Barito, Ramliyadhi, setiap tahun lahan kritis di Kalsel terus bertambah rata-rata seluas 10 ribu hektare.

Luasnya lahan kritis tersebut, menambah parah pencemaran air sungai. Apalagi jika musim penghujan, kikisan tanah yang mengandung zat kimia terbawa air ke sungai.

 

sumber : Banjarmasinpost

Comments  

 
0 #1 deddy 2010-09-16 07:43
wah.. makin tercemar sungai kita ya, kira2 berdampak ngak sama kesehatan
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh