Berita Terbaru
- DEPARTEMEN TRD SURVEY PENGALIRAN PIPA
- PENGIBARAN BENDERA MEMUPUK CINTA TANAH AIR DAN RASA KEBERSAMAAN
- KOMISI II DPRD BANJARMASIN BERIKAN “APRESIASI” ATAS KINERJA 2011 PDAM BANDARMASIH
- PRESENTASI HASIL PELATIHAN DAN WORKSHOP
- KONEKSI UPRATING KAPASITAS PRODUKSI,PDAM BANDARMASIH AKAN HENTIKAN ALIRAN AIR SELAMA 24 JAM
| 04 August 2010
Kualitas Air Baku Mengkhawatirkan
Berdasarkan penilaian Kementrian Lingkungan Hidup, kondisi air di Kalimantan Selatan terjelek di seluruh Indonesia. Hal ini disebabkan banyaknya logam berat, bakteri e-colli dan sampah rumah tangga yang tercampur dalam air sungai.
Beradasarkan data PDAM Bandarmasih Banjarmasin, dana yang dibutuhkan 2006 sebesar Rp 16 Miliar dan terus meningkat hingga 42 Miliar di 2009.
Makin besarnya dana untuk mengolah air baku ini disampaikan Ketuda DPD Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia, sekaligus Direktur Umum PDAM Bandarmasih, Rahmatullah, pada seminar bertema Selamatkan air baku dan sungai di Kal-sel, di Graha Abdi Persada, Selasa (3/8).
Padahal, tambahnya, berapa tahun lalu, pengolahan air sungai menjadi air minum cukup menggunakan tawas. Namun kini penjernihan air tersebut tidak sanggup lagi untuk membuat air sungai layak dikonsumsi.
"Kalau dulu kami cukup menggunakan tawas untuk proses pengolahan air sungai menjadi air minum, sekarang harus menggunakan Polyaluminium Cloride Liquid (PAC Liquid) yang harganya lebih mahal, " katanya.
Bahkan, dengan kondisi air yang terus memburuk, PAC Liquid tidak cukup lagi untuk mengolah air sungai Kalsel menjadi air minum karena baku mutu air yang makin buruk. PDAM bahkan harus menggunakan bahan penjernih dengan kualitas di atas PAC Liquid tersebut.
Ditambahkan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel, Rachmadi Kurdi, dari pengujian yang dilakukan Kementerian LH, nilai air baku yang ada di Kalsel hanya 8,4.
"Itu nilai yang paling rendah diantara daerah lain di Indonesia. Artinya air baku di Kalsel ini sangat kotor," terangnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dari 11 lokasi yang diambil sampelnya, diantaranya Sungai Barito, Sungai Martapura, Sungai Tapin dan Sungai Amandit, semua sudah tercemar logam berat.
Sementara menurut Kasi evaluasi BP DAS Barito, Ramliyadhi, setiap tahun lahan kritis di Kalsel terus bertambah rata-rata seluas 10 ribu hektare.
Luasnya lahan kritis tersebut, menambah parah pencemaran air sungai. Apalagi jika musim penghujan, kikisan tanah yang mengandung zat kimia terbawa air ke sungai.
sumber : Banjarmasinpost




Comments
RSS feed for comments to this post